Yang Ibuku Mau


Hari yang cerah, sinar matahari yang menyapa duluan dengan senyuman. Pagi hari seperti biasanya. Pagi ini, seorang gadis cantik namun cuek ini, Atih bangun pagi dan tidak lupa membereskan tempat tidurnya, dengan bedcovernya berwarna hijau muda kesukaannya dan dengan kelambu bercorak batik dengan paduan velvet hijau. Kegiatan Atih seperti biasanya, dia salat, mengaji, serta menghafal pelajaran ataupun hadits. Terkadang, ia juga suka membaca buku, novel-novel, dan sejarah. Dia juga menyapu dan mencuci piring.

Sesudah Atih mandi, dia berpakaian rapi. Lalu, sarapan dengan Ayah dan juga Adik perempuannya. Ibunya, yang masih menyiram tanaman di pekarangan rumah begitu dia beranjak memakai sepatu di depan pintu, Ibunya pun, sedang menyiram bunga di dekat pintu. Atih bersalaman dengan Ibunya, seraya mencium tangannya.
Ibunya berkata. "Tih, jangan lupa, nanti ikut les Bahasa Inggris pulang sekolah. Harus rajin, dan jangan ambil kegiatan lain, oke!"
Atih hanya menganggukan kepalanya, tanpa semangat. Lalu, dia pergi meninggalkan Ibunya, dengan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!" ucap Atih sambil berjalan.
"Waalaikumussalam," ucap Ibu Atih dengan serius.

Atih mulai menaiki motor hitam revo nya. Ia pun mulai menstarter motornya, dia menginjakkan gigi ke nomor dua, lalu menggas motornya, dengan kecepatan 60 kilometer.
Sesampainya di sekolah, Atih piket dengan teman-temannya. Lalu datang Fatma dan Santi, mereka berkata bahwa Atih tidak pantas untuk mengikuti perlombaan fashion show yang akan diselenggarakan pada tanggal 22 April, di SMA Negeri 1 Sumber Jaya.
"Eh, eh tuh lihat deh, ada orang sok kecantikan. Muka masam, dan gak ada senyum-senyumnya sedikit pun!" ucap Fatma.
"Iya nih, ngapain sih dia ikutan segala hahaha... Hello, yang bener aja kamu mau menyaingi dewi kecantikan di sekolah ini," ucap Santi.
Namun, Atih hanya diam saja, dan melanjutkan menyapu di belakang.
"Eh, eh! Ini anak, main nyelonong aja, gak ada sopan-sopannya," ucap Fatma dengan melihat Atih dengan penuh kekesalan.
"Iya, itu Anak songong amat, yak! Orang lagi ngomong, malah ditinggal pergi. Dasar!" ucap Santi, dengan mengangkat tangannya ingin nonjok Atih.

Kring, kring. Tanda masuk kelas tiba.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dimulai. Atih mengerjakan soal-soalnya dengan benar semua. Teman-temannya pun iri melihat keberhasilan yang diperoleh Atih. Tak jarang semua orang melihat sinis kepada Atih.
"Baiklah Anak-anak, kita cukupkan sampai disini pelajaran kita pada hari ini, semoga bermanfaat untuk kita semua," ucap Ibu guru.
"Iya, Bu, terima kasih Ibu," ucap Anak-anak murid kelas XI IPS 2.
"Kita akhiri pelajaran pada hari ini dengan mengucapkan hamdallah, Alhamdulillah," ucap Ibu guru.
"Alhamdulillah," ucap Anak-anak sambil mengendong tas mereka masing-masing.

Tiba saatnya, Anak-anak ke parkiran untuk mengambil motornya masing-masing.
Atih terakhir pulang, karena masih di kelas untuk membereskan buku-bukunya, dan sampai akhirnya dia diparkiran, ia pun menaiki motornya. Seperti biasa, ia membawa motor dengan kecepatan 60 kilometer. Namun, jika ada motor atau mobil di depannya, ia menurunkan dengan kecepatan 20 kilometer.
Namun, Atih teringat bahwa ia harus les Bahasa Inggris, di tempat yang sudah disewa Ibunya. Atih merasa malas. Namun, ia harus les, jika tidak, pasti Ibunya akan memarahinya.
Atih pun putar balik untuk mengikuti les. Karena, ia tidak ingin Ibunya marah. Sebab, ia pernah dimarahi dan dihukum karena tidak mengikuti apa yang dia mau.
Sepulang les, ia stres. Karena, begitu banyak tugas yang harus dikerjakannya. Belum lagi, ia akan mengikuti O2SN di Liwa, sungguh melelahkan bagi Atih. Waktu yang seharusnya ia kerjakan untuk latihan silat, ia pergunakan untuk les Bahasa Inggris. Padahal, Ibunya tau jika Atih suka sekali ke dunia persilatan dan olahraga.

Waktu tepat pukul 15.45 WIB. Ia sampai di rumahnya, langsung mandi dan salat Asar.
Sesudah itu, ia berlatih pencak silat di kamarnya.
Ibunya datang dan berkata. "Tih, kamu udah sampai mana belajar Bahasa Inggrisnya?"
"Ya, itulah Bu." Ucap Atih dengan tetap fokus latihan
"Nanti, pokoknya kamu harus ikut ke Pare ya, nanti kamu harus bisa kuliah ke luar negeri, oke!" ucap Ibu Atih dengan sumringah.
Namun, Atih masih saja latihan, tidak memperdulikan yang dikatakan Ibunya, dan tidak menjawab iya, atau tidak.
Ibu Atih, pergi. Dan Atih menghela nafas, dan duduk sambil meluruskan kakinya.
Ibunya seakan tidak peduli apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, dan kenapa semuanya harus selalu Bahasa Inggris, dan Luar Negeri, Atih juga tau memang penting sekali untuk belajar Bahasa Inggris. Namun, pernahkah Ibunya bertanya,  apa yang ia inginkan?

Ibunya, datang hanya menanyakan perihal pelajaran yang ia mau, tanpa pernah menanyakan, apa aku kau suka? Semuanya harus apa menurut dia. Ya memang, sekarang bisa saja untuk itu semua. Namun, jika sudah sibuk dengan perlombaan silatnya, bagaimana ia akan belajar Bahasa Inggris seperti yang diinginkan ibunya.

Ibu, selalu mengarahkannya pada apa yang ia mau, itu membuat Atih menangis sendiri di kamar dan tidak pernah keluar kamar, karena harus terus berlatih dan belajar Bahasa Inggris.

Malam yang terang karena bulan penuh bersinar. Atih memberanikan diri untuk bicara dengan Ibunya, bahwa dia ingin ikut lomba O2SN di Liwa, dan tidak akan les untuk sementara waktu.
"Bu, Atih kan mau ikut lomba di Liwa, dan Atih harus fokus full latihan. Jadi, Atih gak bisa ikut Les. Gak apa-apa kan Bu,?" dengan tatapan serius kali ini Atih memulai, untuk memberanikan dirinya berbicara pada Ibunya itu.
"Laah, ngapain kok harus terus-terusan latihan sih! Emangnya selama ini kamu itu gak latihan apa? Bukannya kamu udah rajin latihan terus," kali ini Ibunya terheran, dengan sikap Atih yang tidak seperti biasanya.
Atih bingung ingin menjawab apa, dan harus berbicara apa, agar Ibunya mau mengerti apa yang dia inginkan saat ini.
Hanya helaan nafas panjang, dengan menelan ludah Atih tak dapat bicara. Menahan sesak di dada.
"Ya, mau kamu itu apa? Ibu, hanya memfasilitasi kamu saja Tih. Kelak, kamu enggak akan menyesal, karena persaingan saat ini ketat!" kali ini Ibunya, mempertegas mengapa Atih harus selalu belajar, belajar dan belajar Bahasa Inggris.
"Iya, Bu, Atih tau kok. Atih tau kalo maunya Ibu itu baik, dan Atih juga seneng kok belajar Bahasa Inggris. Tapi, kenapa Ibu selalu enggak pernah mendukung Atih, nanyain Atih, apa yang Atih mau, dan kesukaan Atih itu apa!" kali ini, mata Atih mulai memerah, terlihat di matanya yang hitam bulat. Dan tak terasa ia pun meneteskan air matanya.
"Loh, kenapa kamu nangis Tih? Kamu gak seharusnya nangis. Ibu, cuma mau yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu. Udah, itu aja!" kali ini Ibu Atih sangat keheranan dan tak tega melihat Atih menangis, ia pun berlinang air mata melihat putrinya menangis.
"Iya, Bu, tapi, apa Ibu pernah ngertiin perasaan Atih?, Atih itu mau fokus dulu sama latihan, yang bentar lagi mau diadain Bu, tolong sih ngertiin. Lagian Ibu, ngapain udah sewa-sewain full belajar untuk Atih, dan gak bilang apa-apa sama Atih. Atih ini juga kan punya kesibukan, dan punya keinginan sendiri Bu," kali ini, Atih menangis dengan tersendat-sendat, tak kuat menahan tangisnya, ia pun pergi ke kamarnya.

Ia merasa bahwa tidak ada yang peduli terhadapnya, bahkan Ibunya sendiri, tak peduli apa yang diinginkannya. Atih merasa kesal, dan sangat kecewa mendengar perkataan Ibunya, yang malah seakan tidak mendukungnya. Padahal, selama ini ia tak pernah, tidak mengikuti apa yang diinginkannya.

Atih tiduran di atas bedcover hijaunya, sambil menangis dengan terus memikirkan apa salahnya? Apa dirinya tak pantas mendapatkan apa yang ia mau!? Atih heran dengan sikap Ibunya, yang tak pernah sedikit mengerti perasaannya. Ah, entahlah! Ia peduli atau tidak! Mengerti atau tidak, perasaannya namun dia tetaplah Ibunya. Orang yang melahirkan dan membesarkan ia sampai sekarang, dan memberi banyak pengetahuan, yang saat ini ia pun merasakan hal itu.
Tak terasa, akhirnya Atih pun tidur, dengan air yang membasahi bantalnya.

Pagi hari, ia terbangun. Dengan mata yang sembab. Ayahnya, terheran melihat putri sulungnya sembab matanya.
"Kamu kenapa mata sembab gitu, habis nangis?" kali ini Ayahnya bertanya langsung pada putrinya, yang kala itu ingin berjalan menuju kamar mandi.
"Enggak," hanya itu yang dijawab Atih pada Ayahnya.
Ayah Atih heran, dengan tingkah putrinya yang tidak seperti biasanya, ia tidak menceritakan kenapa dia seperti itu. Ayah  Atih pun bertanya pada Adiknya. Namun, Adik Atih tidak mengetahui juga.

Ketika Atih di kamarnya, Ibunya pun datang pada Atih, dan berkata. "Tih, maafin Ibu, kalo ada salah sama kamu," Ibu Atih berlinang air mata, tak kuasa melihat putrinya semalam menangis tersedu-sedu.
Ayah atih dan Adiknya pun datang, dan melihat mereka. Ayahnya heran, kenapa jadi mellow begini, dan ia pun berkata. "Ada apa sih sebenarnya? Kenapa jadi nangis-nangisan begini"
Atih dan Ibunya, saling tatapan dan berpelukan.
"Ibu, tau kan apa yang Atih mau?" ucap atih, sambil memeluk Ibunya erat dengan meneskan air matanya.
"Iya. Ibu, ngerti kok. Ya udah, jangan nangis lagi ya, maafin Ibu, kalo selama ini selalu gak bisa ngatur waktu yang tepat untuk kamu. "Kali ini Ibunya, merestuinya, dan membiarkan Atih tidak ikut les Bahasa Inggris, untuk sementara waktu, dan ia akan meminta pindah jadwal di beberapa pekan yang akan datang.






Yang Ibuku Mau
Oleh:
Een Patihatul Patimah

Terima kasih, sudah membaca😁
Silahkan tinggalkan komentar, yang sifatnya membangun🍃

4 komentar:

by.U _ Pembelian dan Penjualan by.U dengan Cepat, Mudah dan Murah dari Rumah

Kalian pakai telkomsel tapi tidak sesuai kebutuhan? banyak kouta yang tak terpakai dan hanya menginginkan kouta Flash nya saja? Tenang! Di s...